Tag

Sejak memutuskan Homeschool buat Kalila dan Kaysan, pandangan bunda dan ayah terhadap pendidikan sudah sangat berubah. Dulu pendidikan sama dengan sekolah. Sekarang pendidikan sangat berbeda dengan sekolah.

Setelah makin menikmati keseharian Homeschool kita, Bunda makin sering membaca buku-buku dan artikel-artikel tentang Unschooling. Lama-lama menjadi sangat tertarik dengan Unschooling.

Unschooling ini membiasakan kita untuk belajar dengan proses alami, seperti kita bernafas. Tidak perlu diajari, akan terjadi dengan sendirinya. Sebenarnya proses ini sudah dialami dari saat kita lahir. Bayi akan belajar duduk, berjalan dan berbicara tanpa diajari. Orang tua hanya memberikan stimulasi dan dukungan. Hal itu lah yang akan terus dipertahankan dalam proses unschooling ini. Diharapkan anak-anak tidak akan pernah putus untuk belajar sampai kapan pun juga.

Tentu hal yang paling perlu disiapkan adalah waktu kebersamaan yang banyak bersama anak-anak. Alhamdulillah Allah berikan Bunda kesempatan untuk seharian bersama Kalila Kaysan.

Perbedaan dengan Homescholing adalah dalam proses pembelajaraan sehari-hari. Kalau Unschooling sama sekali tidak menggunakan kurikulum, worksheet, dan berbagai bentuk tes-tes dan sebagainya.

Proses pembelajaran alami yang sering terjadi dalam keseharian kita itulah yang menjadi proses pembelajaran anak-anak dan seringkali orang tuanya. Sebagai contoh,

  • Kita sedang makan ikan, lalu Kaysan bertanya, “apa ini yang tajem ?”, “kok ikan ada lidahnya ?”, “kenapa dia mati kalo mau dimakan ?” berbagai pertanyaan ini yang harus ditanggapi serius oleh orang tua. Sebisa mungkin kita jawab dengan pengetahuan kita. Jika pun kita tidak tahu, ajak anak untuk mengetahui bagaimana proses mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita.
  • Bunda lagi mencuci piring, Kalila memanggil untuk melihat hasil karyanya dari kertas digunting-gunting. Bunda segera datang dan mengomentari dengan serius hasil karyanya. Lalu kita berdiskusi tentang craft-craft apa yang bisa dibuat dari kertas sisa, dsb.
  • Ketika sedang membaca buku, tiba-tiba Kaysan mau melihat kodok yang ada dikolam. Maka Bunda segera mencari kesempatan pertama untuk pergi kekolam yang ada kodoknya.
  • Bunda tidak pernah menyuruh anak-anak untuk sholat, Kalila pakai jilbab, dsb. Cukup didemontrasikan oleh ayah dan Bunda sehingga mereka melihat,  bertanya, mengerti dan mengikuti. Mau tidak mau Ayah dan Bunda akan memperbaikin keseharian kita agar anak-anak mengikuti yang baik-baik. Sesuai dengan prinsip, “Do what I do, not Do what I say”
  • Dulu Bunda selalu menyuruh anak-anak membereskan mainannya setelah selesai bermain. Agar menyenangkan kita melakukannya sambil bernyanyi. Terkadang mereka mau terkadang tidak. Dua tahun terakhir ini, Bunda bilang, “Bunda suka rumah rapi, kalau Kalila dan Kaysan mau, tolong habis main dibereskan.” Ternyata kalila bilang, “aku tidak mau” (Bunda senang, karena dia berani mengemukakan pendapat yang berbeda dengan Bunda). Akhirnya Bunda yang membereskan ketika Bunda tidak lelah. Lama-lama, Kalila terkadang membereskan sendiri mainannya daaan yang bikin Bunda kagum, terkadang dia menawarkan bantuan untuk membantu Bunda melakukan pekerjaan rumah tangga.

Bunda merasa cocok sekali dengan ide unschooling ini. Bunda “hanya” menyiapkan stok sabar dan waktu yang banyaaak sekali, untuk dihabiskan bersama Kalila Kaysan.

sumber-sumber unschooling yang sudah bunda baca, Unschooling Unmanual, The Unschooling Handbook dan cerita-cerita dari keluarga-keluarga yang sudah menjalankan unschool. Unschooling mungkin memang masih asing di Indonesia dan  setahu Bunda belum ada buku Unschooling dalam bahasa indonesia. Di Amerika sudah ada unschooler yang usianya sebunda lho ! kepala 3 😛

Semoga Allah memudahkan langkah Ayah dan Bunda dalam mendidik Kalila dan Kaysan.

Iklan