Rabu, 1 juni 2011 Bunda mengikuti seminar OL yang diadakan Rumah Inspirasi. Karena beda waktu disini dan di Jakarta 1 jam Bunda asyik-asyik saja sampai tepat  pukul 21.00 waktu Dalian Bunda tiba-tiba tersadar, ada seminar !!! Langsung OL dan Alhamdulillah baru mulai 3 menit.

Seminarnya tentang Model dan Metode HomeSchooling. Jadi Model dan Metode HS yang paling mirip sekolah adalah School at Home dimana kita membuat rumah hampir sama seperti sekolah. Ada “kelas”, ada guru, murid, jam pelajaran, dsb. Biasanya orangtua yang baru mulai HS, termasuk Bunda dulu, memakai model ini. Dan berpikir harus ada jam belajar, kalau tidak kapan belajarnya ? Tapi setelah berjalan HSnya malah merasa terbebani dengan metode School at Home ini. Jadi lebih asyik dengan Metode Unschooling, yaitu kebalikannya School at Home. Kalau di Unschool itu sama sekali tidak ada jadwal belajar, tidak ada guru, tidak ada murid, jadi semua berjalan apa adanya. Ikuti keingintahuan anak dengan dibimbing orangtua. Untuk sekarang, Bunda merasa nyaman dengan cara ini dan anak-anak pun ternyata bisa “belajar”. Karena mereka belajar sesuai dengan keinginan mereka.

Kalila belajar membaca dan menulis tanpa diajari. Kaysan mengenal angka tidak perlu ada jam belajar khusus. Pembelajaran kita  bisa terjadi kapan saja tanpa harus ada pengalokasian waktu belajar yang pasti. Kalila setiap hari membaca satu buku dan menceritakan kepada Bunda. Dia bisa membacanya pagi, sore atau malam hari sesuai moodnya. Satu buku memang dibiasakan, tapi terkadang dia mau membaca lebih dari satu buku, tanpa paksaan. Kaysan belajar mengenal angka tanpa harus dia duduk dan mendengarkan Bunda menunjukkan angka satu, dua, dan seterusnya. Tapi dengan setiap naik lift, kita akan melihat angka yang tertera dan menyebutkan angkanya. Atau ketika melihat papan penunjuka jalan atau plat no mobil, Bunda akan menunjukkan dan menyebutkan angkanya. Seperti itu kira-kira pembelajaran yang kita lakukan sehari-hari. 

Kemarin juga Bunda sempat bertanya sampai dimana batas anak boleh atau tidak boleh melakukan sesuatu tanpa mengekang rasa ingin tahunya. Jadi sebenarnya itu tergantung dari nilai dan norma yang dianut suatu keluarga. Semakin sedikit “peraturan” yang dibuat akan semakin membuat anak bereksplorasi. Dan begitu juga sebaliknya, semakin banyak “peraturan” tentu akan semakin menghambat daya eksplorasinya. Jadi larangan Bunda terhadap anak-anak adalah yang membahayakan mereka. Selama itu tidak berbahaya mereka boleh melakukannya.  Tentu dengan beberapa sopan santun yang mulai dibiasakan dilakukan, seperti bilang, tolong, dan terima kasih, makan dengan tangan kanan, sambil duduk. Kaki tidak boleh naik keatas meja dan menyapa ketika bertemu dengan orang yang kita kenal, tidak mengambil dan menggunakan barang milik orang lain tanpa izin pemiliknya.

Sisanya biarkan mereka explorasi sendiri. Toh Bunda pikir ketika mereka sudah dewasa mereka akan bisa membedakan mana yang baik dan tidak baik untuk mereka lakukan bermodalkan pendidikan yang mereka dapatkan ketika mereka kecil.

Tentu selain itu mereka juga belajar banyak dari keseharian orang yang dekat dengan mereka. Jadi Bunda dan ayah harus belajar banyak sabar agar mereka juga bisa mencontoh sabarnya Ayah dan Bunda. Bukan mencontoh yang tidak baik seperti ini. Juga kebiasaan baik lainnya yang tentunya harus dicontohkan oleh ayah dan bunda dulu. InsyaAllah ini juga yang membuat Bunda yakin akan HomeSchool, yakin kalau Ayah dan Bunda bisa dan mau berubah kebiasaan jadi lebih baik demi anak-anak dan mau menambah pengetahuan alias belajar untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak.

Senangnya betemu teman-teman HS karena menambah semangat dalam menjalankan HS. Doakan Ayah Bunda tetap semangat dan istiqomah ya…^_^

Iklan