Ketika saya masih duduk di Taman Kanak-kanak, Ibu sering membacakan buku saku Cermin Ajaib dan Si Babi Ungu. Saya senang sekali dengan cerita-cerita itu dan semua cerita itu memiliki pesan moral yang saya selalu ingat hingga sekarang.

Entah mengapa, jika waktunya membeli buku, maka tangan saya akan selalu mengambil buku dengan pengarang yang sama. Dahulu saya membacanya Guid Blyton, karena tidak tahu huruf jelasnya dan tiap buku tulisan nama pengarangya selalu khas.

Setelah SD barulah saya tahu, kalau tulisan nama pengarang itu dibaca Enyd Blyton. Semakin sering membaca bukunya, semakin suka sekali dengan cerita-cerita yang ditulisnya.

Ketika saya beranjak remaja, Mallory Towers adalah novel favorit saya. Saya selalu berkhayal jika saya bersekolah di sana, bermain cricket, memelihara kelinci, berlaku sedikit nakal dan memiliki teman-teman yang asyik seperti dalam buku. Semua seri Mallory Towers saya punya dan masih lengkap sampai sekarang.


Satu lagi diantara sekian banyak buku Enyd Blyton yang saya miliki adalah Rumah Pohon di Tengah Hutan. Membaca itu saya sampai menangis dan mengadu ke Ibu “Kenapa bibinya galak sekali?”

Wah Pokoknya Enyd Blyton jika membuat buku bisa benar-benar membuat pembacanya merasa dia menjadi tokoh utama disana. Sampai sekarang saya masih suka sekali dengan buku-bukunya. Lucunya, saya berpikir jika Enyd Blyton itu masih seumuran dengan ibu saya. Hingga saya mengetahui belakangan jika ternyata beliau bahkan sudah wafat ketika saya belum lahir.

Cerita ini ditulis dalam rangka mengikuti lomba menulis Penulis Favorit yang diadakan oleh Lovusa

Iklan