Keesokan harinya setelah sampai di Yogyakarta, tujuan pertama kita adalah candi Borobudur.
Seingat Ayah candi Borobudur jam operasinya mulai jam 09.00. Jadilah selesai sarapan jam 08.30 kita meluncur ke Borobudur.

Perjalanan kesana memakan waktu sekitar satu jam. Sesampainya disana matahari sudah bersinar sangat terang dan panasnya menyengat.

Sebelum sampai di Borobudur terdapat satu lokasi tempat menjual tiket masuknya. Namun, jika kita tidak melihat dan melewatkan lokasi tersebut, kita masih bisa membelinya di Borobudur. Ohya kamera juga kena bayar lho.
Dan ternyata jam operasinya Borobudur mulai pukul 05.45 pagi hingga pukul 18.00. Tapi pukul 17.00 pintu masuk sudah ditutup. Wah..kalau tahu begitu lebih baik pagi-pagi datangnya karena jam 09.00 saja panasnya bukan main

Setelah tiket masuk diperiksa langsung deh kita mencari tempat parkir. Mobil kita langsung dikerumuni para penjual topi, souvenir, peminjaman payung sampai jasa gendong anak. Lucu tapi nyata.

Dari pintu masuk menuju candi Borobudur kita bisa naik trem dengan membayar 5,000 rupiah perorang dan mendapat satu botol kecil air mineral.

Sampai didepan candi Nini dan Bapak tidak mau ikut naik mengingat usia mereka . Kalila dengan semangat mengajak masuk ke Borobudur. Sampai di lantai 2 Kalila tidak berani mengelilingi candinya karena tidak ada pembatasnya. Jadi kalau jatuh ya langsung saja kebawah. Kita naik terus sampai lantai paling atas dan berkeliling. Pemandangan dari atas indah sekali. Angin berhembus juga membuat panas sedikit berkurang. Setelah puas melihat-lihat kita turun ke lantai 3. Disana Kalila mau berkeliling karena lantai 3 dikelilingi relief-relief, sehingga kita tidak bisa melihat ataupun jatuh ke lantai 2.

Ketika ingin kembali pulang, menuju pintu keluar tidak disediakan trem. Kita harus berjalan kaki dan rutenya telah ditentukan. Agak sebel juga sih Bunda karena perjalanan pulang harus berjalan kaki dengan panas dan melewati toko-toko souvenir yang sebenarnya bisa tidak kita lewati asal pagarnya dibuka. Rute pulang ini oleh pihak Borobudur sengaja dibuat tidak ada trem dan harus melewati deretan toko itu agar setidaknya pengunjung melihat-lihat toko yang ada.

Buat Bunda cara ini kurang efektif karena bukannya ingin berbelanja malah sebel karena panas. Sebaiknya sih disediakan kereta, namun ada perhentian jika ingin berbelanja di toko souvenir.

Di Borobudur ini yang paling sering dijadikan oleh-oleh adalah cobek dan ulekan. Konon, cobek dan ulekan dari borobudur terbuat dari batu asli dan kuat.

Iklan