Kalila yang udah memasuki usia Pre-School kalo ditanya sekolah dimana, dijawabnya “aku HomeSchooling”.

Orang yang ga nanya lebih lanjut, cuma o..o…kali dipikirnya ah..masih kecil gpp kali sekolah dirumah

Kalo yang mau nanya lagi “Manggil guru ya kerumah ?” ga.., yang ngajar ya Bundanya…
Jika belum deket, mereka cuma O..o.. aja. Kalo udah deket mereka nanya lebih lanjut
“Emang bisa ? sampe kapan ?”

Bunda jawab : “InsyaAllah bisa donk..Sampe SMA atau mereka mau udahan dan pengen kesekolah formal ^_^ “

Dan seperti banyak orang tua HE lain yang ditanya masalah Sosialisasi.
Banyak banget yang nanya : “Sosialisasinya gimana ?”
Sebenernya jawaban Bunda banyakkkkk banget, tapi biar jelas, singkat Bunda akan bilang “Pinter-pinternya orangtua deh nyari lingkungan yang baik buat sosialisasi buat anaknya”

Kenapa ya Kalila n Kaysan ga sekolah ?
Mereka sekolah kok, tapi bukan disekolah, melainkan dimana saja. Bukan memanggil guru privat kerumah, tapi Bunda nya yang menjadi tutor mereka dalam belajar. Pendidikan, yang utamanya adalah tanggung jawab orang tua. Jika bisa dilaksanakan sendiri, kenapa harus berbagi dengan sekolah

Kenapa ga sekolah biasa aja ?
Karena Bunda (dan Ayah) ingin Kalila dan Kaysan tumbuh dan belajar secara optimal. Kalo sekolah biasa, mereka menyamaratakan semua anak. Dengan adanya kurikulum, anak diwajibkan belajar apa yang ditetapkan oleh sekolah, dengan waktu yang baku dan cara yang baju. Pasti semua orang setuju, kalo dibilang “Tiap anak itu unik dan berbeda satu dengan yang lain”. Bener kan ? Jadi kenapa harus disamakan cara belajarnya. Biarkan mereka belajar dengan metode mereka sendiri. Kyaknya ga ada deh sekolah yang menetapkan perbandingan 1:2 (1 tutor, 2 murid). Bunda berharap dengan Bunda terjun langsung, InsyaAllah tiap perkembangan Kalila dan Kaysan bisa langsung Bunda ketahui.

Sosialisasinya gimana ?
Sosialisasi bisa didapat dimana saja. Tidak melulu anak yang sekolah pandai bersosialisasi kan ? (orang cenderung menyamakan sosialisasi dengan mendapatkan teman). Teman bisa didapat dimana saja. Di tempat les, di rumah, teman Online. Disekolah, biasanya teman didapat dengan yang seangkatan. (karena biar mudah, sekolah dibuat pengkotak-kotakan umur).Dengan HE, Bunda berharap Kalila dan Kaysan dapat berteman dan get along dengan siapa saja, tidak harus seumur, bisa lebih tua, atau lebih muda.

Yang ngajar siapa ? Bunda..Emang bisa ?
InsyaAllah bisa…Awal HE memang Bunda akan lebih mendominasi dalam memberi pelajaran. Tapi berbeda dengan sekolah pada umumnya, Kalila n Kaysan akan Bunda sertakan dalam proses pembelajaran itu. Jadi mereka tidak melulu dapet dari Bunda. Diharapkan mereka akan menjadi kritis dan mampu memecahkan masalah dengan mencari solusi sendiri. Seperti ditulis Mba Ines, praktisi HE juga.

“Bayangkan seorang anak yang tidak sekolah dan hanya dididik oleh ibunya, mau jadi apa kelak? Bagaimana bisa seorang ibu rumahan mengajar anaknya sampai selesai?

Jawabannya: Tidak perlu bisa, seorang ibu yang tidak bisa balap mobil dan tidak menyekolahkan anaknya toh bisa menghasilkan anak yang menjadi pemenang termuda sepanjang sejarah dalam NASCAR Sprint Cup Series race.

http://www.thenewamerican.com/index.php/culture/education/1327

Bukan ibu dengan kemampuan akademis super atau yang punya banyak uang untuk bisa mengirimkannya ke berbagai bimbel yang bisa membawanya sebagai pemenang tetapi ibu yang memberikan ‘support’ dan ‘freedom to develop the poise and self-control’

Jadi ga perlu kan Bunda S3 biar bisa ngajar anaknya.


Loe ga akan bisa Punya waktu buat diri loe ?
Ga juga…tapi kalo memang pun iya…Bunda rela kok…apapun yang terbaik buat Anak. Setuju kan ? šŸ™‚

Ijazahnya gimana ?
Bisa kok ikut ujian Paket A, B dan C. Mau yang international bisa pake ujiannya Cambridge. InsyaAllah ga masalah. Ijazahkan bukan suatu tujuan dalam pendidikan

Seperti kata Mba Ines lagi “
Memiliki kemampuan lambat, cepat atau rata-rata, semua anak bisa HE dan boleh HE.
Memiliki kecepatan belajar lambat, cepat atau rata-rata, semua anak HE bisa dan boleh lulus kapanpun mereka siap karena dalam HE yang terpenting bukanlah ‘stempel’ ijazah nya.

Perlu inspirasi lagi: http://www.northwalesweeklynews.co.uk/conwy-county-news/local-conwy-news/2009/06/25/betws-y-coed-girl-who-left-school-at-13-is-to-do-college-course-at-15-55243-23967330/

Semoga ini bisa menjawab pertanyaan teman-teman Bunda yang ingin tau Kenapa Kalila dan Kaysan tidak sekolah seperti yang lain ? ^_^

Iklan